Subuh

Datang hening mencekam ketika hari kian benderang. Mata yang tak bisa pejam masa lalu memang patut dikenang. Di mana letak ia bersemayam adalah tepat di ambang bayang. Tak perlu aku risau kelam karena ia telah membawamu datang. Kuucap terimakasih paling dalam kepada Sang Waktu pemilik ruang. Ia hadir sebelum malam dan menetap tak mau renggang.

Hai, apa kabar? Semoga lukamu sudah mengering. Kini, waktu pada doa puja kita berkerling. Harap asa bahagia kita sanding.

1 Jumadil Akhir 1442

Dzulhijjah

Jika ibarahim diminta oleh Allah untuk menyembelih anak tercintanya, dengan satu alasan yang jelas Ibarahim harus patuh sebab ia adalah abdi-Nya. Ternyata selepas ditunaikan Ismail tetap hidup. Dengan mujizat yang Allah turunkan digantikannya dengan seekor domba. Begitulah kiranya sebuah pengorbanan harus rida Ibrahim laksanakan tulus demi yang ia cinta, ialah Dia yang Maha Cinta.

Maka, sepertinya sama halnya denganku kali ini. Dalam situasi dan kondisi yang serba mendesak aku harus benar-benar menyembelih hasrat pribadiku sementara waktu. Sebagai contoh membeli dan membaca buku baru yang sudah sangat aku ingin jadikan kebiasaan. Sebagai bentuk upaya penggalian inspirasi untuk berkarya. Tapi lihat, ternyata ketika aku benar menyembelihnya, Allah menggantikan itu semua dengan dirimu yang begitu anggun di sisiku. Tiada bandingnya. Sebab kau yang akan jadi inspirasi setiap karyaku. Begitulah kiranya sebuah pengorbanan harus rida aku tunaikan sungguh demi yang aku cinta, ialah kamu ciptaan yang Maha Cinta.

19 Jumadil Awal 1442

Cincin Retak

Teramat berlebihan jika aku mengaitkan retak dan patahnya cincin yang kuberikan dan kukenakan di jari tangan kirimu itu dengan sebuah pertanda bahwa hubungan kita sedang tidak baik-baik saja. Terlihat sangat bodoh jika aku terlena dengan hal semacam itu sampai-sampai hidupku jadi murung melulu.

Pikiran memanglah sumber dari segala hal. Bisa kesedihan pun kebahagiaan. Bisa ketenangan pun ketegangan. Bagaimana tidak? Jika sebuah realita dikaitkan dengan duga sangka dan menganggap itu sebuah fakta. Padahal hanyalah sangkaan belaka.

Sebuah realita selepas beberapa hari aku berikan cincin itu kamu mengabarkan bahwa ia patah. Tapi masih bisa dipakai dan tetap indah di jarimu yang penuh kelembutan itu. Sampai berbulan-bulan pun tetap kamu pakai.

Sebuah duga sangka bahwa itu pertanda bahwa hubungan kita sedang tidak baik-baik saja. Dan jelas, ini hanyalah sangkaan saja dan jauh dari fakta. Lalu mengapa aku harus merisaukannya? Apalagi murung berhari-hari sampai lupa diri bahwa ada hidup yang harus aku jalani dengan sepenuh hati.

Lanjutkan membaca Cincin Retak

Kesetiaan yang Membanggakan

Kamu adalah insan yang dilahirkan di muka bumi dengan peran yang telah Tuhan tetapkan dan tentu semua atas upayamu menentukan jalan hidup. Kamu bukanlah sapi yang dikekang pada seutas tali dalam kandang berukuran 4 kali 4 meter. Bukan pula burung piaraan dalam sangkar yang sesekali dalam seminggu dimandikan di bawah mentari pagi. Kamu adalah insan yang merdeka.

Dunia ini sangat luas bagi kita makhluk sebutir debu, ada banyak jalan yang bisa kita tapakkan kaki laluinya. Setiap insan punya jalannya masing-masing. Sedang tujuan akhirnya sama, kematian.

Berbahagialah bagi dua insan yang memutuskan untuk sejalan. Melalui hari demi hari dengan bergandengan tangan. Ada satu sama lain untuk menguatkan, bukan untuk menjatuhkan.

Namun apa jadinya jika di tengah jalan ada kekhawatiran yang berlebihan, hingga terlena pada kekangan-kekangan dalam balutan kasih sayang. Berharap sebuah teguh dalam kesetiaan.

Padahal hal semacam itu bukanlah kesetiaan, itu hanyalah sebuah pembodohan dengan dasar kasih sayang sebagai alingan.

Lalu apa bedanya dengan piaraan? Disangkar atau dikandangkan. Memang benar jinak namun tak punya kebebasan. Jika berperikemanusiaan, semestinya kasih sayang tak bisa dijadikan alasan untuk sebuah pengekangan.


Seperti daun yang tak pernah lupa kemana ia akan jatuh, air kemana akan mengalir, asap kemana akan membubung, dahan kemana akan menjalar, dan akar kemana akan menembus.

Bukankah membanggakan ketika kesetianmu padaku itu sepenuhnya atas dasar dari dalam relung hatimu sendiri. Bukan karena kamu terisolasi atas kekangan yang berbalut kasih sayang?

Maka harga sebuah kesetiaan adalah bagaimana upayaku membuatmu yakin bahwa aku adalah rumah yang tepat untukmu pulang. Bukan dengan pengekangan!

Mojokerto, 12 Jumadil Awal 1442

Hadapi dan Jangan Ratapi

Sejak lahir hingga sedewasa ini, sudah berapa kali tubuh luka terkena belati. Pasti lupa tak terhitung lagi. Setiap sayatan atau bahkan tebasan punya rasa sakit yang sama, yang membedakan hanyalah lebar koyaknya seberapa.

Sedikit atau sangat lebar koyaknya sama saja, menyakitkan bukan?

Jika tidak terlalu lebar, maka bisa kita tahan getir. Jika sangat lebar, maka bisa pingsan bak tersambar petir. Jika sampai memutus denyut nadir, maka itu pertanda sebuah akhir.

Sesakit apapun luka harus dihadapi, jangan sampai berhenti dan hanya terpuruk meratapi. Orang waras selalu ingin siuman, bangkit dan sembuh. Meski bekas lukanya tetap membubuh.

Orang pemberani bukanlah orang yang tak punya rasa takut, manusia normal selalu ada yang ditakutkan. Namun mereka memilih untuk menghadapi rasa takut itu. Meski ia tahu kadang luka tak bisa dielak.

8 Jumadil Akhir 1442

Bertemu Mantan Dahulu, Bersua Kekasih Kemudian (1)

Sudah menjadi takdir bahwa kita bersua selepas pertemuanmu dengan (mantan) kekasihmu dahulu. Kau diharuskan melumat pahit manis sekelumit pengalaman yang bisa dibilang dalam kurun waktu tak sedikit.

Bukankah hidup memang begitu, kita mesti merasakan jatuh terlebih dahulu, sebelum belajar tentang cara untuk bangkit menyandang sembilu. Bukankah hidup begitu lucu, Tuhan mendatangkan kepedihan sekaligus diancang-ancang kebahagiaan. Begitulah nasib kita sebagai insan, hanya dengan sabar kita akan rida atas ketetapan.

Kini kau beriringan denganku, mencoba mengubur luka bersama. Meski kebahagiaan adalah tanggung jawab masing-masing, tapi tidak ada salahnya jika berusaha saling memberi sebagai awal bahagia menyingsing.

Setiap perjalanan pasti ada halang rintang. Di setiap indahnya malam pasti ada cercah bintang. Jangan terlalu mengharap kesempurnaan dari makhluk yang fana. Justru akan lebih lega jika hati penuh penerimaan.

Iya, penerimaan. Seperti yang aku rasakan saat ini. Aku terima segala rasa yang sulit aku urai definisi, aku coba bijak dengan nalar yang bajik. Agar aku bisa susun ini mosaik, dan kutampik segala sangsi. Tapi apa daya diri yang juga punya nurani, tak bisa kutepis getar lidah untuk sebuah keluhan.

Ketika bersama senyummu yang indah kau kabarkan dengan prasyarat aku tak boleh marah, rencana perjalanan ke Surabaya untuk sekedar singgah berkumpul sejawat lama yang ternyata ada mantanmu disana. Alah, hanya sebentar untuk bincang cengkrama beberapa jam saja. Selepas itu landas lagi menuju singgahan kedua. Kan besok lusanya kita sudah berencana juga ada rajut sua jalan bersama. Begitu caramu menerangkan kepadaku.

Betapa pandainya aku memakai pedengan. ‘Nggak pa-pa, cuma sekedar ngopi kan’. Dengan enteng itu kuucapkan sembari senyum yang menyimpan banyak misteri. Sebuah kalimat bernada tanya tapi merasa tak berhak untuk punya tanda tanya.

Bagi kita yang merajut asa dalam kisah sebelum absah. Aku tak mempunyai apa-apa kecuali rasa percaya dengan penuh harap yang membubung tinggi sampai angkasa. Tak ada hak apapun atasku untuk segala hal yang berkenaan dengan rasa cemburu.

Biar kukulum cemburuku. Biar kuhidu air mata hatiku yang beraroma kepercayaan.

(1) Jika kau bertandang lalu bertemu rekan-rekan dan tentu dia salah satunya. Lalu kembali melenggang dan kita sua di lain suasana; (2) Atau jika kita sua dahulu lalu aku pulang sebab urusanmu belum matang. Dan ketika urusan usai kau mampir sebentar bertemu rekan-rekan dan tentu dia salah satunya. Maka, keduanya, sama saja. Intinya kau akan bertemu dengannya, dan itulah yang mengoyak hatiku secara dalam-dalam.

Apalah dayaku yang hanya berkesah dalam aksara. Mungkin jajaran kata pun akan mengutukku karena tak berani bersuara. Tak jadi apa, asal kau senang akupun tetap percaya.

Apakah itu semua sudah kau rencana atau sebuah kebetulan saja. Aku tak berani banyak tanya. Sebab prasyarat tak boleh marah sudah kuikat dengan janji. Toh rasa cemburu tak harus jadi amarah yang menjadi-jadi. Cukup aku pendam diam-diam dan aku ungkap dengan kalam.

Kekasih, bukankah cinta itu menuntun bukan menuntut.

Kurasa cukup sudah aku membual tak karaun. Pada akhirnya, setiap kenyataan memang harus diterima dengan lapang dada.

Maka, yang terjadi terjadilah. Berlayar memang seperti ini, pasti ada masa badai dan gelombang.

6 Jumadil Awal 1442