Subuh

Datang hening mencekam ketika hari kian benderang. Mata yang tak bisa pejam masa lalu memang patut dikenang. Di mana letak ia bersemayam adalah tepat di ambang bayang. Tak perlu aku risau kelam karena ia telah membawamu datang. Kuucap terimakasih paling dalam kepada Sang Waktu pemilik ruang. Ia hadir sebelum malam dan menetap tak mau renggang.

Hai, apa kabar? Semoga lukamu sudah mengering. Kini, waktu pada doa puja kita berkerling. Harap asa bahagia kita sanding.

1 Jumadil Akhir 1442

Bertemu Mantan Dahulu, Bersua Kekasih Kemudian (1)

Sudah menjadi takdir bahwa kita bersua selepas pertemuanmu dengan (mantan) kekasihmu dahulu. Kau diharuskan melumat pahit manis sekelumit pengalaman yang bisa dibilang dalam kurun waktu tak sedikit.

Bukankah hidup memang begitu, kita mesti merasakan jatuh terlebih dahulu, sebelum belajar tentang cara untuk bangkit menyandang sembilu. Bukankah hidup begitu lucu, Tuhan mendatangkan kepedihan sekaligus diancang-ancang kebahagiaan. Begitulah nasib kita sebagai insan, hanya dengan sabar kita akan rida atas ketetapan.

Kini kau beriringan denganku, mencoba mengubur luka bersama. Meski kebahagiaan adalah tanggung jawab masing-masing, tapi tidak ada salahnya jika berusaha saling memberi sebagai awal bahagia menyingsing.

Setiap perjalanan pasti ada halang rintang. Di setiap indahnya malam pasti ada cercah bintang. Jangan terlalu mengharap kesempurnaan dari makhluk yang fana. Justru akan lebih lega jika hati penuh penerimaan.

Iya, penerimaan. Seperti yang aku rasakan saat ini. Aku terima segala rasa yang sulit aku urai definisi, aku coba bijak dengan nalar yang bajik. Agar aku bisa susun ini mosaik, dan kutampik segala sangsi. Tapi apa daya diri yang juga punya nurani, tak bisa kutepis getar lidah untuk sebuah keluhan.

Ketika bersama senyummu yang indah kau kabarkan dengan prasyarat aku tak boleh marah, rencana perjalanan ke Surabaya untuk sekedar singgah berkumpul sejawat lama yang ternyata ada mantanmu disana. Alah, hanya sebentar untuk bincang cengkrama beberapa jam saja. Selepas itu landas lagi menuju singgahan kedua. Kan besok lusanya kita sudah berencana juga ada rajut sua jalan bersama. Begitu caramu menerangkan kepadaku.

Betapa pandainya aku memakai pedengan. ‘Nggak pa-pa, cuma sekedar ngopi kan’. Dengan enteng itu kuucapkan sembari senyum yang menyimpan banyak misteri. Sebuah kalimat bernada tanya tapi merasa tak berhak untuk punya tanda tanya.

Bagi kita yang merajut asa dalam kisah sebelum absah. Aku tak mempunyai apa-apa kecuali rasa percaya dengan penuh harap yang membubung tinggi sampai angkasa. Tak ada hak apapun atasku untuk segala hal yang berkenaan dengan rasa cemburu.

Biar kukulum cemburuku. Biar kuhidu air mata hatiku yang beraroma kepercayaan.

(1) Jika kau bertandang lalu bertemu rekan-rekan dan tentu dia salah satunya. Lalu kembali melenggang dan kita sua di lain suasana; (2) Atau jika kita sua dahulu lalu aku pulang sebab urusanmu belum matang. Dan ketika urusan usai kau mampir sebentar bertemu rekan-rekan dan tentu dia salah satunya. Maka, keduanya, sama saja. Intinya kau akan bertemu dengannya, dan itulah yang mengoyak hatiku secara dalam-dalam.

Apalah dayaku yang hanya berkesah dalam aksara. Mungkin jajaran kata pun akan mengutukku karena tak berani bersuara. Tak jadi apa, asal kau senang akupun tetap percaya.

Apakah itu semua sudah kau rencana atau sebuah kebetulan saja. Aku tak berani banyak tanya. Sebab prasyarat tak boleh marah sudah kuikat dengan janji. Toh rasa cemburu tak harus jadi amarah yang menjadi-jadi. Cukup aku pendam diam-diam dan aku ungkap dengan kalam.

Kekasih, bukankah cinta itu menuntun bukan menuntut.

Kurasa cukup sudah aku membual tak karaun. Pada akhirnya, setiap kenyataan memang harus diterima dengan lapang dada.

Maka, yang terjadi terjadilah. Berlayar memang seperti ini, pasti ada masa badai dan gelombang.

6 Jumadil Awal 1442