Subuh

Datang hening mencekam ketika hari kian benderang. Mata yang tak bisa pejam masa lalu memang patut dikenang. Di mana letak ia bersemayam adalah tepat di ambang bayang. Tak perlu aku risau kelam karena ia telah membawamu datang. Kuucap terimakasih paling dalam kepada Sang Waktu pemilik ruang. Ia hadir sebelum malam dan menetap tak mau renggang.

Hai, apa kabar? Semoga lukamu sudah mengering. Kini, waktu pada doa puja kita berkerling. Harap asa bahagia kita sanding.

1 Jumadil Akhir 1442

Amin

Allah tahu bahwa di dalam hatimu detik demi detik terasa sangat lambat ketika kamu dalam penantian.

Tapi apakah kamu tahu bahwa di tangan Allah waktu bisa dilipat?

Allah tahu bahwa di dalam hatimu jengkal demi jengkal terasa sangat membentang jauh ketika kamu dalam kerinduan.

Tapi apakah kamu tahu bahwa di hadapan Allah jarak bisa dilipat?

Sekarang yang perlu kamu lakukan cuma satu, beriman kepada-Nya. Selebihnya ucapkan Amin. Lalu jangan terpuruk pada ketakutan, karena semestinya iman bisa memupuk keberanian.

21 Jumadil Awal 1442

Husnuzan

Mungkin pada waktu itu Allah sengaja membuat hatimu patah sesakit-sakitnya, kecewa sepahit-pahitnya, agar kamu selamat dari orang yang salah.

Sekarang cukuplah Allah buatmu paham bahwa penantianmu dengan sabar adalah cara berjuang yang paling indah.

20 Jumadil Awal 1442

Dzulhijjah

Jika ibarahim diminta oleh Allah untuk menyembelih anak tercintanya, dengan satu alasan yang jelas Ibarahim harus patuh sebab ia adalah abdi-Nya. Ternyata selepas ditunaikan Ismail tetap hidup. Dengan mujizat yang Allah turunkan digantikannya dengan seekor domba. Begitulah kiranya sebuah pengorbanan harus rida Ibrahim laksanakan tulus demi yang ia cinta, ialah Dia yang Maha Cinta.

Maka, sepertinya sama halnya denganku kali ini. Dalam situasi dan kondisi yang serba mendesak aku harus benar-benar menyembelih hasrat pribadiku sementara waktu. Sebagai contoh membeli dan membaca buku baru yang sudah sangat aku ingin jadikan kebiasaan. Sebagai bentuk upaya penggalian inspirasi untuk berkarya. Tapi lihat, ternyata ketika aku benar menyembelihnya, Allah menggantikan itu semua dengan dirimu yang begitu anggun di sisiku. Tiada bandingnya. Sebab kau yang akan jadi inspirasi setiap karyaku. Begitulah kiranya sebuah pengorbanan harus rida aku tunaikan sungguh demi yang aku cinta, ialah kamu ciptaan yang Maha Cinta.

19 Jumadil Awal 1442

Cincin Retak

Teramat berlebihan jika aku mengaitkan retak dan patahnya cincin yang kuberikan dan kukenakan di jari tangan kirimu itu dengan sebuah pertanda bahwa hubungan kita sedang tidak baik-baik saja. Terlihat sangat bodoh jika aku terlena dengan hal semacam itu sampai-sampai hidupku jadi murung melulu.

Pikiran memanglah sumber dari segala hal. Bisa kesedihan pun kebahagiaan. Bisa ketenangan pun ketegangan. Bagaimana tidak? Jika sebuah realita dikaitkan dengan duga sangka dan menganggap itu sebuah fakta. Padahal hanyalah sangkaan belaka.

Sebuah realita selepas beberapa hari aku berikan cincin itu kamu mengabarkan bahwa ia patah. Tapi masih bisa dipakai dan tetap indah di jarimu yang penuh kelembutan itu. Sampai berbulan-bulan pun tetap kamu pakai.

Sebuah duga sangka bahwa itu pertanda bahwa hubungan kita sedang tidak baik-baik saja. Dan jelas, ini hanyalah sangkaan saja dan jauh dari fakta. Lalu mengapa aku harus merisaukannya? Apalagi murung berhari-hari sampai lupa diri bahwa ada hidup yang harus aku jalani dengan sepenuh hati.

Lanjutkan membaca Cincin Retak

Kesetiaan yang Membanggakan

Kamu adalah insan yang dilahirkan di muka bumi dengan peran yang telah Tuhan tetapkan dan tentu semua atas upayamu menentukan jalan hidup. Kamu bukanlah sapi yang dikekang pada seutas tali dalam kandang berukuran 4 kali 4 meter. Bukan pula burung piaraan dalam sangkar yang sesekali dalam seminggu dimandikan di bawah mentari pagi. Kamu adalah insan yang merdeka.

Dunia ini sangat luas bagi kita makhluk sebutir debu, ada banyak jalan yang bisa kita tapakkan kaki laluinya. Setiap insan punya jalannya masing-masing. Sedang tujuan akhirnya sama, kematian.

Berbahagialah bagi dua insan yang memutuskan untuk sejalan. Melalui hari demi hari dengan bergandengan tangan. Ada satu sama lain untuk menguatkan, bukan untuk menjatuhkan.

Namun apa jadinya jika di tengah jalan ada kekhawatiran yang berlebihan, hingga terlena pada kekangan-kekangan dalam balutan kasih sayang. Berharap sebuah teguh dalam kesetiaan.

Padahal hal semacam itu bukanlah kesetiaan, itu hanyalah sebuah pembodohan dengan dasar kasih sayang sebagai alingan.

Lalu apa bedanya dengan piaraan? Disangkar atau dikandangkan. Memang benar jinak namun tak punya kebebasan. Jika berperikemanusiaan, semestinya kasih sayang tak bisa dijadikan alasan untuk sebuah pengekangan.


Seperti daun yang tak pernah lupa kemana ia akan jatuh, air kemana akan mengalir, asap kemana akan membubung, dahan kemana akan menjalar, dan akar kemana akan menembus.

Bukankah membanggakan ketika kesetianmu padaku itu sepenuhnya atas dasar dari dalam relung hatimu sendiri. Bukan karena kamu terisolasi atas kekangan yang berbalut kasih sayang?

Maka harga sebuah kesetiaan adalah bagaimana upayaku membuatmu yakin bahwa aku adalah rumah yang tepat untukmu pulang. Bukan dengan pengekangan!

Mojokerto, 12 Jumadil Awal 1442

Kita Bukan Piaraan

Terbanglah sebebas-bebasnya
kepakkan sayap indahmu kemana
angin yang kamu ingin pun suka

Tak ada yang menahanmu untuk
tetap tinggal dan semayam dalam dekap
Semua ada pada kaki dan sayap
itu semua kamu punya kehendak

Aku dan kamu adalah dua yang sama
selebihnya diri yang hendak bagaimana
Apakah saling tatap dan menetap
atau malah sekadar singgah sekejap

Aku punya sayap dan kamu pun sama
Terbangku untuk pulang di ribaanmu
Bagaimana terbangmu?

Mojokerto, 12 Jumadil Awal 1442