Cincin Retak

Teramat berlebihan jika aku mengaitkan retak dan patahnya cincin yang kuberikan dan kukenakan di jari tangan kirimu itu dengan sebuah pertanda bahwa hubungan kita sedang tidak baik-baik saja. Terlihat sangat bodoh jika aku terlena dengan hal semacam itu sampai-sampai hidupku jadi murung melulu.

Pikiran memanglah sumber dari segala hal. Bisa kesedihan pun kebahagiaan. Bisa ketenangan pun ketegangan. Bagaimana tidak? Jika sebuah realita dikaitkan dengan duga sangka dan menganggap itu sebuah fakta. Padahal hanyalah sangkaan belaka.

Sebuah realita selepas beberapa hari aku berikan cincin itu kamu mengabarkan bahwa ia patah. Tapi masih bisa dipakai dan tetap indah di jarimu yang penuh kelembutan itu. Sampai berbulan-bulan pun tetap kamu pakai.

Sebuah duga sangka bahwa itu pertanda bahwa hubungan kita sedang tidak baik-baik saja. Dan jelas, ini hanyalah sangkaan saja dan jauh dari fakta. Lalu mengapa aku harus merisaukannya? Apalagi murung berhari-hari sampai lupa diri bahwa ada hidup yang harus aku jalani dengan sepenuh hati.

Sebuah realita juga bahwa aku membeli cincin sepasang di tanah Dayak dengan harga setara bahan bakar minyak 2 liter saja. Namun niatnya, kekasih. Niatku membelikan itu adalah untuk memberimu bukti bahwa pekerjaan mencintai diawali dengan pekerjaan memberi.

Sebagaimana produk-produk yang dijual di pasaran, ada kala sebuah produk lolos dari sortir. Ketika sudah di tangan pembeli tak tahunya produk tersebut cacat. Sehingga faktanya, cincin itu membawa retak dan patah dalam hitungan hari saja.

Tak apa, kekasih. Itu cincin kayu yang sudah semestinya rentan dengan patah jika sang produsen lupa menyortirnya. Toh, nanti jika sudah waktunya, cincin logam mulia akan melingkar di jarimu itu dengan gagahnya. Semua hanyalah perihal waktu. Selebihnya upaya dan doa jadi pondasi yang harus kukuh.


Setelah berbulan-berbulan cincin itu melingkar di jarimu. Secara tiba-tiba kamu melepasnya dan mengatakan, “Bawa kembali saja cincinnya”. Pandanganmu menunduk, rona mukamu basah.

Sebegitu dahsyatnya kah kekecewaan hingga dengan mudahnya kamu mengembalikan cincin itu kepadaku? Ketika aku tanya mengapa. Kamu menjawab, “Aku tak mau terikat dengan siapapun”, dengan mata yang masih kuyu memandang kehampaan.


Kembali lagi aku harus dengan keras mengatakan kepada diriku sendiri, bahwa realitanya hanyalah kamu mengembalikan cincin itu kepadaku selepas rasa kecewamu atas perilakuku beberapa menit yang lalu. Dan aku tak perlu mengait-ngaitkannya dengan artian perpisahan. Tidak mungkin kamu berkehendak perpisahan. Sangat tidak mungkin, kamu tak selabil itu dalam mengambil keputusan. Aku yakin itu. Kamu hanya sedang gusar denganku.

Hingga pada akhinya aku harus kembali berbenah dalam bernalar. Kembali mengorek isi dalam kepala dan hati agar aku lebih legawa atas segala hal yang terjadi. Sebuah fakta pula bahwa kamu mengembalikan cincin itu sudah cukup membuatku sedih dan khawatir teramat dalam. Atau, lebih tepatnya, aku takut kehilanganmu. Aku merasa takut adalah fakta, sedangkan ketakutanku hanyalah hal yang diada-ada oleh pikiran yang salah arah.


Ucapanmu bahwa kamu tak ingin terikat dengan siapapun itu sangatlah membuatku terkejut dan sangat sedih, kekasih. Sedih itu muncul karena aku salah nalar bahwa aku ingin mengikatmu dengan cincin. Cincin yg kamu kenakan itu tanda bahwa kamu adalah kekasihku. Padahal tanpa cincin itu pun aku bisa saja dengan sangat lega meyakini bahwa kamu adalah kekasihku. Lalu kenapa aku harus terikat pada kebendaan jika tanpa secuil bendapun aku bisa dengan sepenuh hati mengatakan bahwa kamu kekasihku—aku kekasihmu.

Tafsirku atas ucapanmu pun keliru, bahwa kamu hendak pergi meninggalkanku—menghendaki perpisahan. Padahal dalam ucapanmu tidak ada satu katapun yang pantas untuk aku tafsirkan dengan makna ‘perpisahan’

Ketidakmauanmu terikat dengan siapapun itu adalah hal yang sangat bijak setelah aku merenunginya dalam-dalam.

Bukankah dalam kepemilikan akan ada rasa kehilangan yang kapan saja bisa datang? Bukankah dalam keterikatan akan ada rasa sakit ketika kerekatan berakhir keretakan? Lalu, bukankah lega jika hidup ini tanpa keterikatan?

Ketidakmauanmu atas keterikatan adalah siasat paling mutakhir dalam berkehidupan. Dengan adanya itu kamu belajar mencintai diri sendiri terlebih dahulu sebelum belajar mencintaiku. Dengan adanya itu kamu pun terjauhkan dari rasa sakit yang mendalam. Sudah menjadi keharusan hal itu kita pegang masing-masing dalam sebuah hubungan pra-absah. Alih-alih menyediakan payung jika tiba-tiba hujan mendera.


Lalu bagaimana jika kita sudah dalam hubungan yang absah? Apakah pernikahan bisa dikatakan keterikatan dalam sebuah kesepakatan? Apakah kamu tetap tidak mau terikat meskipun sudah menikah? Dan bla bla bla. Biarkan renunganku berlanjutkan di lain waktu. Kini aku sudah lumayan lega. Ternyata, ucapanmu itu bermaksud menyelamatkan kita satu sama lain agar tidak saling melukai.

Denganmu aku belajar banyak hal, kekasih. Hati kita tidak terikat. Lebih bajik dan bijak ialah hati kita terkait. Maka, hanya dengan ketulusan mencintai hati kita akan terkait, kekasih. Dan bukan sekadar dengan cincin yang mudah retak hingga patah.

Mojokerto, 12 Jumadil Awal 1442

Diterbitkan oleh

ainin.n

| penulis • petani |

16 tanggapan untuk “Cincin Retak”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s